<< UPDATE >>
 

Lima Kebiasaan Yang Rentan Terkena Penyakit

27 Juli 2010
Kesehatan adalah salah satu hal yang paling penting dalam hidup kita. Tentu saja kita akan selalu berusaha agar bisa hidup sehat, tapi hati-hati kebiasaan kamu yang sering kamu lakukan mungkin saja akan berdampak buruk bagi kesehatan.

Kebiasaan yang dimaksud adalah kebiasaan yang melibatkan interaksi dan emosi kita. Kebiasaan inilah yang bisa menyebabkan imunitas kita melemah bahkan terserang penyakit. Berikut ini adalah kebiasaan yang bisa menyebabkan kondisi imunitas kita menurun bahkan terkena penyakit :

1. Tidak Berinteraksi Dengan Lingkungan

Salah satu penelitian membuktikan bahwa orang yang jarang berinteraksi dengan orang lain akan mudah terkena penyakit. Ini diketahui setelah mengamati 276 orang yang berusia 18-55 tahun dan menemukan mereka yang berinteraksi lebih dari 6 orang, ternyata memiliki kekebalan tubuh 4 kali lebih kuat untuk melawan virus penyebab flu.

Jadi kamu jangan sampai terjebak dalam rutinitas kamu, setidaknya sempatkan diri bergaul dengan lingkungan, paling tidak interaksi ini bisa dilakukan dengan sms atau telepon walau tak secara langsung.

2. Begadang

Setelah begadang pasti paginya kamu akan merasakan lemas dan lesu. Benar memang apa yang ada dalam lagunya Rhoma Irama, dengan begadang segala penyakit akan mudah datang. Ini juga dibuktikan dengan Penelitian di Universitas of Chicago yang menemukan bahwa orang yang tidur 4 jam setiap malam selama 1 minggu hanya memproduksi setengah antibodi pencegah virus flu dalam darah dibandingkan mereka yang tidur 7-8,5 jam setiap malamnya.

Jadi mulai sekarang jauhilah yang namanya begadang, sekali-kali sih gak apa-apa, asal ada perlunya seperti lembur misalnya. Setidaknya setelah begadang kamu harus melakukan pemulihan seperti beristirahat sehingga badan kamu segar kembali.

3. Jarang Tertawa

Penelitian membuktikan bahwa emosi positif berhubungan dengan dengan penurunan hormon stres serta membuat kita lebih mudah tertawa. Orang yang suka tertawa akan meningkatkan sel imun mereka secara signifikan.

Jadi mulailah membiasakan diri untuk tertawa, tapi awas jangan berlebihan jika tidak ingin dianggap seperti orang gila, hehee…

4. Dikelilingi Perokok

Memang ada benarnya pernyataan yang mengatakan bahwa perokok pasif akan banyak ruginya jika dibanding dengan perokok aktif. Tapi pernyataan ini bukan berarti mengharuskan kamu jadi perokok aktif lho, tapi sebisa mungkin bagaimana kamu menghindari lingkungan seperti ini.

Berdasarkan fakta yang ada, Setiap tahunnya diestimasi ada sebanyak 3.000 warga Amerika yang tidak merokok, meninggal akibat kanker paru-paru dan 300 ribu anak mengalami infeksi saluran pernapasan bawah.

5. Malas Mengolah Tubuh

Sebuah penelitian membuktikan bahwa orang yang tidak sering bergerak rentan akan penyakit. Meskipun aktivitas fisik yang dipilihnya adalah berjalan sebanyak 2 kali seminggu, cukup ampuh menjauhkan mereka dari penyakit.

Jadi kamu harus mulai membiasakan diri untuk bergerak, entah itu hanya sekedar berjalan atau berolah raga.

Sumber : Kaskus.us
Read More...

Sifat-Sifat Berdasarkan Golongan Darah

26 Juli 2010
Golongan darah A

  1. Biasanya orang yang bergolongan darah A ini berkepala dingin, serius, sabar dan kalem atau cool, bahasa kerennya.

  2. Orang yang bergolongan darah A ini mempunyai karakter yang tegas, bisa di andalkan dan dipercaya namun keras kepala.

  3. Sebelum melakukan sesuatu mereka memikirkannya terlebih dahulu. Dan merencanakan segala sesuatunya secara matang. Mereka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan secara konsisten.

  4. Mereka berusaha membuat diri mereka se wajar dan ideal mungkin.

  5. Mereke bisa kelihatan menyendiri dan jauh dari orang-orang.

  6. mereka mencoba menekan perasaan mereka dan karena sering melakukannya mereka terlihat tegar. Meskipun sebenarnya mereka mempunya sisi yang lembek seperti gugup dan lain sebagainya.

  7. Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat. Makanya mereka cenderung berada di sekitar orang-orang yang ber'temperamen' sama.

Golongan darah B

  1. Orang yang bergolongan darah B ini cenderung penasaran dan tertarik terhadap segalanya.

  2. Mereka juga cenderung mempunyai terlalu banyak kegemaran dan hobby. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu namun cepat juga bosan.

  3. Tapi biasanya mereka bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang di kerjakannya.

  4. Mereka cenderung ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Dan biasanya mereka cenderung melalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain. Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu secara berbarengan.

  5. Mereka dari luar terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan antusias. Namun sebenarnya hal itu semua sama sekali berbeda dengan yang ada didalam diri mereka.

  6. Mereka bisa dikatakan sebagai orang yang tidak ingin bergaul dengan banyak orang.

Golongan darah O

  1. Orang yang bergolongan darah O, mereka ini biasanya berperan dalam menciptakan gairah untuk suatu grup. Dan berperan dalam menciptakan suatu keharmonisan diantara para anggota grup tersebut.

  2. Figur mereka terlihat sebagai orang yang menerima dan melaksakan sesuatu dengan tenang. Mereka pandai menutupi sesuatu sehingga mereka kelihatan selalu riang, damai dan tidak punya masalah sama sekali. Tapi kalau tidak tahan, mereka pasti akan mencari tempat atau orang untuk curhat (tempat mengadu).

  3. Mereka biasanya pemurah (baik hati), senang berbuat kebajikan. Mereka dermawan dan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain.

  4. Mereka biasanya di cintai oleh semua orang, "loved by all". Tapi mereka sebenarnya keras kepala juga, dan secara rahasia mempunyai pendapatnya sendiri tentang berbagai hal.

  5. Dilain pihak, mereka sangat fleksibel dan sangat mudah menerima hal-hal yang baru.

  6. Mereka cenderung mudah di pengaruhi oleh orang lain dan oleh apa yang mereka lihat dari TV.

  7. Mereka terlihat berkepala dingin dan terpercaya tapi mereka sering tergelincir dan membuat kesalahan yang besar karena kurang berhati-hati. Tapi hal itu yang menyebabkan orang yang bergolongan darah O ini di cintai.

Golongan darah AB

  1. Orang yang bergolongan darah AB ini mempunyai perasaan yang sensitif, lembut.

  2. Mereka penuh perhatian dengan perasaan orang lain dan selalu menghadapi orang lain dengan kepedulian serta kehati-hatian.

  3. Disamping itu mereka keras dengan diri mereka sendiri juga dengan orang-orang yang dekat dengannya.

  4. Mereka jadi cenderung kelihatan mempunyai dua kepribadian.

  5. Mereka sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.

  6. Mereka mempunyai banyak teman, tapi mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk memikirkan persoalan-persoalan mereka.

Sumber : kaskus.us

Read More...

Ku Gapai Sukses Ramadhan

25 Juli 2010

Predikat taqwa yang menjadi tujuan diperintahkannya ibadah shaum Ramadhan dan ibadah-ibadah lain -baik ibadah yang berhubungan Vertikal langsung dengan Allah swt maupun ibadah horisontal- ternyata tidak menjadi prestasi puncak lalu berhenti, setelah itu selesai, bahkan mati.

Meraih predikat taqwa membutuhkan proses perjuangan panjang dalam hidup. Sehingga taqwa berarti sesuatu yang hidup, aktif, berkembang dan berkesinambungan. Madal hayah –seumur hidup-.

Mari kita renungkan panggilan Allah swt kepada hamba-hamba-Nya yang dicintai.A’lam
Allah swt berfirman:

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Katakanlah: “Sesungguhnya Aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.

Dan Aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”.

Katakanlah: “Sesungguhnya Aku takut akan siksaan hari yang besar jika Aku durhaka kepada Tuhanku”.

Katakanlah: “Hanya Allah saja yang Aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. QS. Az Zumar : 10-14.

Kontinyu dalam Bertaqwa

Perhatikan, Allah swt memanggil orang beriman dengan panggilan kecintaan, kedekatan dan kehangatan; Wahai hamba-hamba-Ku, ini menunjukkan panggilan itu disukai Allah swt. Persis seperti sabda Nabi saw, ”Nama dan panggilan yang paling Allah sukai adalah Abdullah (nisbat penghambaan kepada Allah) dan Muhammad (yang terpuji).”

Setelah itu Allah swt memerintahkan hamba-hamba-Nya yang benar tauhidnya agar bertaqwa. Ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan derajat taqwa di sisi Allah swt memerlukan perjuangan terus-menerus dan proses madal hayah (Tafsir Ibnu Katsir).

Dengarlah ungkapan sahabat Abu Bakar, ”Demi Allah, seandainya salah satu kaki saya berada di surga, sedangkan kaki yang lain masih di luarnya, maka aku tidak merasa aman dari makar Allah swt.”

Semua kosa kata dan terminologi yang berarti ketaatan, kebaikan, manfaat, amal shaleh, produktifitas adalah bagian dari taqwa. Sisi lain yang berarti keburukan, kesia-siaan, kemunkaran, pemborosan dan maksiat adalah yang merusak taqwa.

Lanjutan ayat ini berbunyi, ”Bagi orang-orang yang ihsan atau berbuat baik dalam kehidupan dunia akan mendapatkan kebaikan.”

Akar kata ihsan berikut turunannya (ahsanu, muhsinin dan ihsan) di dalam Al Qur’an sedikitnya terdapat di lima puluh tempat, yang kesemuanya bermakna kebaikan, amal positif, menuju proses sempurna, dan membawa manfaat.

Sebagaimana ihsan dalam terminologi Rasulullah saw adalah ”Anda beribadah kepada Allah, seakan-akan Anda melihatnya. Jika Anda tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah Ia melihat Anda.” . Ihsan disini bermakna kesungguhan dalam kebaikan dan ta’at.

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw mendefinisikan ihsan dengan berbuat baik secara optimal. ”Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kamu menyembelih, maka sembelihnya dengan sebaik-baiknya.”.

Ihsan juga berarti profesional, tepat waktu, dan proses menuju sempurna. Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melaksanakan sesuatu atau pekerjaan, ia laksankan dengan sempurna.”

Sukses Sampai Akhir Ramadhan

Kalau kita hubungkan dengan konteks Ramadhan, maka bagaimana kita akhirnya terus bersemangat mengisi Ramadhan sampai selesai selama sebulan penuh, bukan hanya semangat di awalnya saja. Padahal hari-hari terakhir Ramadhan menjadi penentu kesuksesan kita dalam bulan ini.

Saudaraku, Rasulullah saw adalah menjadi bukti konkrit untuk kita teladani. Adalah beliau dalam hidupnya tidak pernah meninggalkan i’tikaf di masjid. Selama delapan atau sembilan kali beliau terus melaksanakan i’tikaf tersebut. Bahkan di tahun di mana beliau meninggal dunia, beliau i’tikaf dua puluh hari akhir Ramadhan.

Rasulullah saw adalah seorang Nabi, kepala negara, suami, ayah dan otomatis tanggung jawab beliau sangat besar mengurus ummatnya, namun beliau tidak pernah meninggalkan ibadah ini, dengan alasan apapun termasuk pulang kampung. Ya, Rasulullah saw tidak pernah pulang kampung di hari-hari nan mahal di mata Allah swt ini.

Rasulullah saw menyibukkan diri dengan taqarrub ilallah, munajat, tilawah Al Qur’an, do’a, istighfar, muhasabah dan lainnya. Gambaran menghidupkan malam-malam itu beliau istilahkan sendiri dengan ungkapan ”Syaddul mi’zar. Mengencangkan ikat pinggang”. Beliau juga membangunkan keluarganya untuk begadang di malam-malam akhir Ramadhan. Rahasianya adalah untuk meraih lailatul qadar. Sunnah ini dilanjutkan oleh para istri-istri Rasulullah saw dan para sahabatnya radliyallahu ajma’in.

Rasulullah saw, istri-istrinya dan para sahabat radliyallahu ajma’in mengajarkan kepada kita untuk pandai mengambil prioritas amal, mana yang harus di dahulukan dan mana yang harus di akhirkan.

Lanjutan ayat ini menekankan kembali untuk bisa mengambil prioritas amal itu, ”Dan bumi Allah itu luas . Para ahli tafsir sepakat yang dimaksud ayat ini adalah perintah untuk berhijrah dan berjihad. Salah satu bentuk hijrah dan jihad dalam konteks kita, yang tidak ada peperangan adalah meningkatkan ketaatan dan mujahadah dalam kebaikan. Memburu lailatul qadar adalah bagian dari hijrah dan jihad ini, sebagaimana dicontohkan para salafus shaleh.

Dunia tidak secekak daun kelor, ternyata peribahasa ini dinukil dari firman Allah swt ini.

Di manapun kita menginjakkan kaki, di tempat kelahiran atau di rantau, adalah sama saja di mata Allah swt. Artinya adalah jangan sampai kita melewatkan hari-hari dan malam-malan mahal itu dengan alasan pulang kampung, antri panjang di loket, macet di jalan dan seterusnya, hanya karena mengejar, ”saya harus kumpul keluarga di hari raya”.

Bukan itu yang dicontohkan nabi saw. Beliau orang yang tidak pernah memutus hubungan tali silaturahim, dengan siapa pun apalagi dengan keluarga dan kerabat. Namun beliau sangat tahu persis bahwa malam lailatul qadar itu harus di raih dengan cara mengoptimalkan sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Untuk melaksanakan i’tikaf di masjid memang membutuhkan perjuangan yang besar, membutuhkan keseriusan yang tinggi dan kesungguhan dalam melaksanakannya. Banyak godaan dan tantangn untuk melakukan i’tikaf ini. Apakah karena alasan persiapan lebaran lah, atau bahkan animo dan persepsi masyarakat yang tidak benar, bahwa ”lebaran harus kumpul dengan keluarga”.

Saudaraku, permasalahannya adalah karena kita belum mempersiapkan ibadah ini jauh-jauh hari, serta belum memahamkan anggota keluarga kita bahwa ibadah sepuluh hari terkahir ini meskipun hukumnya sunnah muakkadah, namun tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw. Kalau toh pulang kampung bisa setelah shalat idul fitri. Sehingga kedua hasanah atau keutamaan bisa diraih sekaligus. Hasanah lailatul qadar dan silaturahim lebaran.

Kuatkan Kesabaran

Bagi orang yang mampu melawan godaan dan tantangan itu akan mendapatkan balasan tak terhingga. Allah swt menepati janjinya, ”Balasan orang yang sabar dalam ketaatan adalah pahala tanpa batas.” Sesuatu yang masih bisa dibilang dengan secanggih alat apapun, masih terhitung sedikit. Namun bagi orang yang sabar dalam ketaatan mendapatkan balasan bighairi hisab –tak terhitung-.

Saudaraku, balasan bagi orang yang sungguh-sungguh menghidupkan malam-malam sepuluh akhir Ramadhan akan mendapatkan kebaikan tak ternilai harganya. lailatul qadar bagian dari kebaikan tak ternilai harganya itu.

Saudaraku, pengorbanan dan keseriusan itu justru menjadi bukti kesungguhan peribadatan kita kepada Allah swt. Ayat selanjutnya Allah swt menyeru:

”Katakanlah, saya diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan ketundukan total dalam agama.”

Bahkan kita disuruh Allah swt agar menjadi orang muslim pertama dalam ketaatan. Bangga menjadi muslim yang taat. Allah swt berfirman: ” Dan Aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”.

Menjadi Insan Rabbani

Saudaraku, Allah swt menginginkan dari kita, agar menjadi insan Rabbani, bukan insan ramadhani. Yang taqwa kepada Allah swt di bulan Ramadhan, juga di luar bulan Ramadhan. Karena itu kita dipesan untuk takut berbuat dosa dan maksiat lagi pasca Ramadhan. Allah swt berfirman:

Katakanlah: “Sesungguhnya Aku takut akan siksaan hari yang besar jika Aku durhaka kepada Tuhanku.

Katakanlah: “Hanya Allah saja yang Aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. Allahu

Sumber : Eramuslim
Read More...

Persiapan Menjelang Bulan Ramadhan

24 Juli 2010
Ramadhan adalah bulan penuh berkah, penuh berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islam harus mengambil keberkahan Ramadhan dari semua aktifitas positif dan dapat memajukan Islam dan umat Islam. Termasuk dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan pemberdayaan umat. Namun demikian semua aktifitas yang positif itu tidak sampai mengganggu kekhusu’an ibadah ramadhan terutama di 10 terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Rasulullah saw. menikahkan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, menikahi Hafsah dan Zainab.

Persiapan Mental


Persiapan mental untuk puasa dan ibadah terkait lainnya sangat penting. Apalagi pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dll, sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusu’an ibadah Ramadhan. Dan kesuksesan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.

Persiapan ruhiyah (spiritual)

Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an saum sunnah, dzikir, do’a dll. Dalam hal mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:” Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).

Persiapan fikriyah

Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilan kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan karena puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.

Persiapan Fisik dan Materi

Seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :
• Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
• Berobat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
• Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. Al-Haitsami).

Sarana penunjang yang lain yang harus disiapkan adalah materi yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’ dan tidak berlebihan atau ngoyo dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusu’an ibadah Ramadhan.

Merencanakan Peningkatan Prestasi Ibadah (Syahrul Ibadah)

Ibadah Ramadhan dari tahun ke tahun harus meningkat. Tahun depan harus lebih baik dari tahun ini, dan tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Ibadah Ramadhan yang kita lakukan harus dapat merubah dan memberikan output yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga, perubahan masyarakat dan perubahan sebuah bangsa. Allah SWT berfirman : « Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri » (QS AR- Ra’du 11). Diantara bentuk-bentuk peningkatan amal Ibadah seorang muslim di bulan Ramadhan, misalnya; peningkatan, ibadah puasa, peningkatan dalam tilawah Al-Qur’an, hafalan, pemahaman dan pengamalan. Peningkatan dalam aktifitas sosial, seperti: infak, memberi makan kepada tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim, beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan dan meringankan beban umat Islam. Juga merencanakan untuk mengurangi pola hidup konsumtif dan memantapkan tekad untuk tidak membelanjakan hartanya, kecuali kepada pedagang dan produksi negeri kaum muslimin, kecuali dalam keadaan yang sulit (haraj).

Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrut Taubah (Bulan Taubat)

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana syetan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Sehingga bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat kondusif untuk bertaubat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih Islami. Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah SWT, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat.

Taubat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang beruntung. Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur 31).

Oleh karena itu, di bulan bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan dan meminta ma’af kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Taubah dan istighfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfiroh (ampunan), rahmat dan karunia Allah SWT. “Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS Hud 52)

Menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah, Da’wah

Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para da’i dan ulama untuk melakukan da’wah dan tarbiyah. Terus melakukan gerakan reformasi (harakatul ishlah). Membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi sesama. Meningkatkan kepekaan untuk menolak kezhaliman dan kemaksiatan. Menyebarkan syiar Islam dan meramaikan masjid dengan aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dll, sampai terwujud perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam berbagai bidang kehidupan. Ramadhan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, tetapi momentum tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan, sehingga kebaikan itulah yang dominan atas keburukan. Dan dominasi kebaikan bukan hanya dibulan Ramadhan, tetapi juga diluar Ramadhan.

Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrul Muhasabah (Bulan Evaluasi)

Dan terakhir, semua ibadah Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang/kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya. Semoga Allah SWT senantiasa menerima shiyam kita dan amal shaleh lainnya dan mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera. Dan itu baru akan terwujud jika bangsa ini yang mayoritasnya adalah umat Islam kembali kepada Syariat Allah. []

Sumber : Panduan Ibadah Ramadhan, Iman Santoso, Lc.
Read More...

10 Hal yang Dapat Mendatangkan Cinta Allah

23 Juli 2010
Cinta Allah Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya.

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Saudaraku, sungguh setiap orang pasti ingin mendapatkan kecintaan Allah. Lalu bagaimanakah cara cara untuk mendapatkan kecintaan tersebut. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa hal untuk mendapatkan maksud tadi dalam kitab beliau Madarijus Salikin.

Pertama
, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, pen]

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib. Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.

Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.

Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.

Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah, fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).

Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.

Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.

Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.

Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.



Sumber : catatan Facebook
Read More...
 
 
 
 
Copyright © Kang Andi